
BAB 1
TUNGGANGAN ISTANA

KISAH AUDI BARU DI ISTANA
Cogito ergo sum. Aku berpikir (meragu), maka aku ada”.
Begitu Rene Descartes mengemukakan keberadaannya.
Tapi, itu ratusan tahun lalu, ketika kegilaan akan daya nalar
menjadi kegandrungan setiap orang yang ingin diakui keberadaannya.
Untuk saat ini, seperti telah dikemukakan banyak pemikir
dan juga pemikir yang bisa menjadi penikmat, ”aku
mengonsumsi, maka aku ada”. Tak heran barang-barang
konsumsi pengusung citra tertentu menjadi ekspresi kepanjangan
identitas diri. Apa yang aku konsumsi adalah adanya
aku atau sebagian besar dari adanya aku.
Tak heran barang-barang bermerek pengusung citracitra
tertentu dan eksklusif menjadi buruan untuk kepentingan
sebuah eksistensi atau keberadaan. Sebut saja mulai
dari rumah atau apartemen, mobil, sepatu, pakaian, jam,
kacamata, dompet, hingga tas jinjing yang kerap tidak ada isinya.
Di Istana Kepresidenan, Jakarta, eksistensi diri atau setidaknya
citra diri para tamu tetapnya kerap ditunjukkan”
dengan mobil yang dipakaianya, tidak peduli siapa yang
membelikannya. Karena itu, untuk acara-acara istimewa,
mobil-mobil yang biasa terlihat di showroom berjajar rapi
di halaman parkir Istana. Sungguh makmur negara kita sebenarnya
meskipun semua itu merek dari luar negeri sana.
Bandingkan, misalnya, dengan pejabat India atau, tidak
jauh-jauh, pejabat negara tetangga kita, Malaysia.
Orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes, Aburizal
Bakrie, menjadi salah satu pelakunya. Di setiap acara
berbeda, mobil yang dipakainya juga berbeda-beda. Mungkin
mobil-mobil itu perlu dipanasi sehingga perlu juga
kompasiana.com/wisnunugroho
Sedan Audi baru di halaman parkir depan Istana Negara.
sesekali dipakai untuk pergi. Mobil-mobil Ical, antara lain,
adalah Camry jatah sebagai menteri, Alphard, Lexus, dan Mercedes-Benz terbaru.
Menteri lain juga tidak mau ketinggalan. Koleksi mobil
itu sempat muncul bersamaan ketika Jakarta diterjang banjir,
awal Februari 2008. Mobil-mobil jangkung ber-cc besar
terkumpul di Istana yang sedang menggelar rapat lantaran
dikepung banjir.
Kegemaran akan mobil ternyata juga terlihat dari putra
bungsu Pak Beye, Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas.
Lulusan universitas Australia dan Singapura yang belum
sempat bekerja profesional ini saat ini aktif di partai politik
yang didirikan Pak Beye dan saat ini diketuai pakdenya,
Hadi Utomo. Saat ini, Ibas merintis karier politik menjadi
calon anggota legislatif dari Daerah Pemilihan Jatim VII, di
mana Pacitan masuk dalam salah satu cakupan daerahnya.
Setidaknya, ada tiga mobil yang ditumpangi Ibas berganti-
gantian, tergantung dari acara yang hendak dihadiri.
Mobil itu adalah Toyota Alphard, Chevrolet, dan Audi.
Tentu saja, semua mobil itu model terbaru.
Saya mengonsumsi, maka saya ada.
ROLLS-ROYCE DI ISTANA
Masih tentang keajaiban yang kerap terjumpai tanpa
sengaja di Istana Kepresidenan, Jakarta. Tepatnya sih
di parkiran Istana Kepresidenan.
Istana Kepresidenan yang saya maksud adalah kompleks
yang terdiri dari Istana Merdeka, Istana Negara,
Wisma Negara, Kantor Presiden, Gedung Bina Graha, dan
Gedung Sekretariat Negara.
Seperti biasa, setelah padatnya kegiatan di Istana Kepresidenan,
Jakarta, saya kembali ke kantor. Jarak antara
Kantor Presiden dan tempat kami memarkir motor memang
jauh. Sekitar satu kilometer jaraknya jika saya tidak salah
menduga. Semula saya mengeluh dengan jauhnya jarak
ini. Seperti juga kerap saya keluhkan kenapa pusat-pusat
belanja dan hotel-hotel mewah menempatkan pengendara
motor sebagai yang tidak diharapkan hadirnya.
Coba, tunjukkan kepada saya, di pusat belanja dan hotel
mewah mana yang memperlakukan pengendara motor
secara setara dengan pengendara mobil, misalnya? Soal
parkir saja, misalnya. Para pengendara motor pasti pernah mengeluhkan hal yang sama.
TUNGGANGAN ISTANA
7
Tetapi, akhirnya saya menerima. Ketidaksetaraan dan
ketidakadilan justru memberikan peluang u
ntuk munculnya
para pejuang yang kemudian menjadikannya pahlawan
ketika menang dalam perjuangan. Kalau tetap kalah
dalam perjuangan, ya, diposisikan sebag
ai pecundang.
Penjara menjadi tempat baginya untuk bisa memandang
ketidakadilan secara berbeda. He-he-he, kok jadi ngelantur ke mana-mana.
Keluhan saya di Istana akhirnya
juga tidak berlangsung
lama. Jika cuaca bagus, berjalan kaki dari parkiran motor
sampai Kantor Presiden menjadi kesempatan untuk berolahraga
juga. Banyaknya tanaman yang s
ubur tumbuh di
kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, membuat udara di
sekitarnya terasa segar saat masuk
ke rongga dada.
Banyaknya keajaiban yang terjumpai membuat saya
bersyukur. Selain sedan Bentley warna hitam, keajaiban
lain yang saya jumpai di Istana adalah sedan Rolls-Royce
warna coklat muda di Istana. Karena terperangah melihatnya
di depan mata (maklum orang desa), saya gemetaran
memandanginya.

Begini kira-kira rupa Rolls-Royce yang saya jumpai di halaman parkir Istana.
Karena gemetaran, tangan saya tidak kuasa mengabadikan
keajaiban yang saya jumpai itu. Sopir sedan sangat
istimewa ini berikut tiga pengawalnya yang menumpang
mobil mewah juga di belakangnya memandangi saya dengan
raut muka yang saya tafsirkan sebagai raut muka
tidak suka. Karena merasa tidak enak ditatap seperti itu, setelah
puas melihatnya, saya lantas pergi meninggalkannya.
Bisik-bisik dengan petugas parkir Istana Kepresidenan,
sedan Rolls-Royce yang terparkir di halaman Istana adalah
milik seorang pengusaha. Rokok adalah salah satu bidang
usahanya.
Hebat juga, pikir saya. Dari usaha yang membuat banyak
potensi celaka untuk banyak pembelinya saja pengusaha
itu bisa kaya raya. Tentu saja, kaya raya di sini ukurannya
adalah sedan Rolls-Royce yang diparkir di Istana.
Tidak tahu, apakah Rolls-Royce itu terkena fatwa haram
atau tidak jika datang ke Istana.
Apakah Anda para pembeli dan penikmat rokok pernah
menumpang Rolls-Royce seperti yang diparkir di Istana?
Kalau belum juga, segeralah jera karena rokok hanya membuai
Anda tentang fantasi nikmatnya naik Rolls-Royce.
Tetapi, kalau belum mau jera juga, tidak perlu berkecil
hati. Kepala BIN (perokok-Red) tetap bersama Anda.
Rokok apa yang Anda isap? Semoga saja rokok yang
bisa membuat pengusaha pemilik Rolls-Royce itu dapat
membeli Rolls-Royce berikutnya untuk koleksi dan membuat
lebih nyata fantasi Anda.
Masih juga belum jera merokok?
Semua memang terserah Anda.
ROLLS-ROYCE SIAPA?
Sejak Pak Boedi Sampoerna dimintai keterangan Pansus
Bank Century dan kemudian Komisi Pemberantasan Korupsi,
saya menjadi bertanya-tanya. Terlebih setelah secara
terbuka Pak Boedi menyatakan tidak punya hubungan apa
pun dengan pihak Istana yang sejak periode lalu dipimpin
Pak Beye.
Sebelum penampilan Pak Boedi di Pansus dan KPK,
saya tenang-tenang saja. Ketenangan pikiran saya didasarkan
pada dugaan, Rolls-Royce di halaman parkir kompleks
Istana Kepresidenan, Jakarta, adalah milik salah satu
pengusaha rokok ternama di Indonesia. Namun, ketika Pak
Boedi membantah punya hubungan dengan Istana, saya
lantas bertanya-tanya, siapa si empunya Rolls-Royce yang
diparkir di halaman kompleks Istana sekitar tiga tahun lalu
itu?
Memang, orang kaya di perusahaan rokok itu tidak hanya
Pak Boedi. Ada yang lebih kaya dari Pak Boedi tentunya.
Namun, saya tidak tahu siapa dia. Seingat saya, nomor
polisi Rolls-Royce di halaman kompleks Istana Kepresidenan
itu adalah 234. Anda yang tahu siapa pemilik Rolls-
PAK BEYE DAN ISTANANYA
10
Royce itu dengan melacak nomor seri Rolls-Royce-nya
tolong beri tahu saya. Syukur-syukur sekalian tahu juga
hubungan pemilik Rolls-Royce itu dengan penghuni Istana.
Saat menyaksikan Rolls-Royce itu di halaman parkir
kompleks Istana Kepresidenan, saya memang lupa mencatat
tanggalnya. Bukan karena malas, melainkan karena nyaris
tidak percaya mendapati Rolls-Royce di Istana. Menyesal
juga jadi orang desa yang mudah gumun sehingga jadi
tak berdaya untuk sekadar mencatat atau memotret Rolls-
Royce yang ada di depan mata.
Menurut Anda, kira-kira itu Rolls-Royce siapa? Saya
yakin, nama belakangnya adalah Sampoerna juga. Namun,
nama depannya apa, ya? Anda yang pernah menjumpai
Rolls-Royce ini di tempat lain mungkin bisa membantu saya.

Rolls-Royce dengan logo yang menjadi penanda penunganggnya.
LExUS MENGHILANG DARI ISTANA
Siapa bilang krisis keuangan dunia tidak berimbas ke
Istana. Bahkan, sebelum krisis keuangan yang merontokkan
harga-harga saham itu memuncak, imbas krisisnya
sudah terasa. Di halaman Istana Kepresidenan, Jakarta,
imbas itu menjadi nyata.
Sejak sebulan terakhir, tidak terlihat lagi sedan Lexus
di halaman parkir Istana. Lexus milik orang terkaya di
Indonesia karena lembar-lembar sahamnya itu, tidak lagi
dijadikan moda angkutan utama. Aburizal Bakrie yang
memilikinya lebih banyak memarkirnya. Sehari-hari, sedan
Toyota Camry jatahnya sebagai pembantu yang setia menemaninya.
”Lexus masih saya pakai, tetapi kalau malam saja,” ujar
pemilik nomor polisi RI 13 untuk setiap kendaraan yang
digunakannya itu.
Nomor polisi RI 13 disandang Menko Kesra untuk memfasilitasi
masuknya Sudi Silalahi yang saat ini memakai
nomor polisi RI 15. Sebelumnya, sebagai Menko Kesra,
Aburizal menggunakan nomor polisi RI 14.

Bersamaan dengan krisis yang masih terjadi, Pak Ical
memang jarang terlihat di Istana. Panggilan tugas menyelamatkan
bisnis keluarga tampaknya lebih utama. Apalagi,
negara yang selama empat tahun terakhir ini dicantolinya
enggan membela perusahaan-perusahaannya yang melempem
terimbas krisis keuangan dunia. Predikat sebagai orang
terkaya di Indonesia yang disandangnya Desember 2007
bisa saja sirna.
Dengan kondisi seperti ini, tidak heran jika Lexus yang
mulai dipakainya sejak menjadi orang terkaya di Indonesia
itu menghilang dari halaman parkir Istana. Lebih nyaman,
hemat, dan bersahaja memakai sedan dinas meskipun dengan
demikian menjadi turun kelasnya.
Mari berhemat dengan uang negara kumpulan pajak
rakyat se-Indonesia Raya. Bukankah negara kita memang
kaya raya untuk sekadar membiayai para pejabat dan gaya hidupnya?
kompasiana.com/wisnunugroho Lexus Pak Ical saat masih baru di Istana Negara.
KEMBALINYA LExUS KE ISTANA
Ini mungkin kabar atau sinyal baik untuk Anda. Kabar baik ini terutama untuk Anda pemegang saham Bumi atau saham grup usaha Bakrie. Bukan soal angka-angka yang naik turun tak terduga di pasar bursa. Kabar atau
sinyal baik ini muncul di Istana. Setelah sejak September 2008 tidak muncul, Lexus bernomor polisi RI 13 kembali masuk Istana. Penumpangnya
sudah kita ketahui semua. Ya, dia adalah Aburizal Bakrie atau biasa dipanggil Pak Ical. Sedan Lexus itu mengiringi
sedan baru dan jeep Mercedes-Benz baru (masih dengan
setir kiri) presiden saat kunjungan kerja ke Karawang, pekan
lalu.
Sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan
Rakyat, bersamaan dengan predikat barunya sebagai orang
terkaya akhir 2007, Pak Ical menggunakan nomor polisi RI
13. Saya tidak paham dasar alasannya. Saya hanya menerka,
berdasarkan pemahaman umum kita tentang angka 13
yang katanya sial artinya.
Mungkin, menjadi orang terkaya di Indonesia saat menjabat
sebagai pembantu Pak Beye adalah sebuah kesialan.

kompasiana.com/wisnunugroho Pak Ical suatu masa ketika masih
terkaya pincang kakinya.
Itu perkiraan saya. Sebelumnya nomor RI 13 tidak pernah digunakan di Istana. Sebelum dinyatakan sebagai orang terkaya di Indonesia, nomor polisi kendaraan Pak Ical adalah RI 14. Ah, sudahlah. Apalah artinya sebuah angka jika tidak terkait langsung dengan penghasilan kita. He-he-he. Kembali ke Lexus. Sebagai orang terkaya, Pak Ical mungkin ingin terlihat berbeda di antara kumpulan 36 pembantu di Istana. Karena itu, selain memakai Lexus, Pak Ical kerap memakai secara bergantian Toyota Alphard dan Nissan President. Saya yakin itu semua pasti miliknya. Sedan dinas Toyota Camry memang tetap diterima. Tetapi, amat jarang digunakan sejak awal dijatahkan. Toyota Camry itu baru terlihat ajek digunakan sejak krisis keuangan global merontokkan saham-saham di pasar bursa.
Sebelumnya, Pak Ical adalah orang terkaya di Indonesia. Majalah Forbes yang menghitung kekayaannya. Pak Ical sendiri saat tengah berada di Hotel Four Seasons Jimbaran, Bali, awal Desember 2007, hanya tertawa
mendengar hitungan tersebut. Itu hanya hitungan di atas kertas, katanya.
Soal ajek dipakainya sedan dinas Toyota Camry saat krisis mendera, mungkin Pak Ical ingin menunjukkan keprihatinannya. Pak Ical mungkin juga ingin berbela rasa dengan orang-orang dalam kumpulannya yang juga merugi karena rontoknya harga-harga saham perusahaan dalam
grup usahanya. Sebagai mantan orang terkaya di Indonesia, tidak mungkin kan alasan tidak digunakannya Lexus selama lima bulan karena ingin berhemat semata. Kita berpikir positif saja, seperti dianjurkan banyak dari
pejabat-pejabat kita. Kita juga berpikir optimistis saja, seperti dianjurkan mereka. Anjuran berpikir positif dan optimis itu didengung-dengungkan para pejabat dan yang bermental pejabat karena, menurut mereka, tampaknya hanya ada dua kategori dalam melihat realitas. Hitam-putih. Negatif-positif. Pesimis-optimis. Padahal, terhadap sebuah realitas, banyak kategori yang bisa muncul di sana. Di antara hitam dan putih saja, ada
banyak sekali pilihan warna. Begitu juga seterusnya. Bersamaan dengan kabar atau sinyal baik lewat kembalinya Lexus Pak Ical di Istana, Anda boleh lega. Bisa jadi, Pak Ical sudah melihat tanda akan kembali membaiknya
saham-saham perusahaan dalam grup usahanya. Hayo, siapa mau membantu Pak Ical ajek menggunakan Lexusnya di Istana?
Atau, jangan-jangan Anda lebih rela Camry yang lebih kerap digunakan Pak Ical ke Istana. Toh sekaya apa pun, statusnya hanya pembantu. Bagaimana menurut Anda? 18 Februari 2009
